Example 728x250
Budayamelayu

Tamiang, awal peradaban Melayu yang tenggelam dalam lumpur

19
×

Tamiang, awal peradaban Melayu yang tenggelam dalam lumpur

Share this article
Example 468x60

Tamiang, daerah yang dikenal sebagai awal peradaban Melayu di Sumatera, kembali menjadi sorotan setelah dilanda banjir bandang yang menghancurkan sebagian besar infrastruktur dan jejak sejarah. Dalam beberapa minggu terakhir, upaya pemulihan terus berlangsung dengan bantuan pemerintah, masyarakat, dan relawan dari berbagai instansi. Daerah ini tidak hanya menjadi korban bencana alam, tetapi juga menjadi simbol kegigihan bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan.

Dari Medan, perjalanan tiga jam melalui jalan darat membawa kita ke Tamiang, sebuah wilayah yang kini tenggelam dalam lumpur dan kesedihan. Banjir yang terjadi pada 25 November 2025 menghancurkan rumah, jalan, dan bahkan jejak sejarah yang telah bertahan ratusan tahun. Puing-puing dan material lumpur masih menutupi banyak area, membuat proses pemulihan menjadi sangat rumit.

Example 300x600

Namun, semangat untuk bangkit tidak pernah padam. Ribuan relawan, alat berat, serta dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, TNI, dan Polri bekerja sama untuk membersihkan daerah tersebut. Presiden Joko Widodo pun dua kali datang ke Tamiang, menunjukkan komitmen pemerintah untuk memulihkan daerah yang pernah menjadi pusat perdagangan dan budaya Melayu.

Relawan membersihkan lumpur di Tamiang

Tamiang, Pusat Peradaban Melayu yang Terkubur

Situs sejarah Tamiang yang terendam lumpur

Jauh sebelum peta politik modern digambar, Tamiang sudah menjadi pusat perdagangan, budaya, dan keyakinan. Sungai Tamiang, yang mengalir dari pedalaman Sumatera hingga Selat Malaka, menjadi jalur penting bagi perahu dagang yang membawa rempah, kapur barus, dan hasil hutan lainnya. Di tepian sungai itulah, perkampungan awal Melayu tumbuh, menjadikan Tamiang sebagai nadi kehidupan bagi peradaban Melayu tertua di Sumatera.

Sayangnya, jejak-jejak peradaban itu kini terkubur oleh lumpur dan waktu. Banjir yang terjadi pada 2025 memberi luka mendalam, menghancurkan situs-situs sejarah dan mengubah wajah kota. Namun, upaya pemulihan terus berlanjut, dengan pembangunan hunian sementara dan perbaikan infrastruktur menjadi fokus utama.

Upaya Pemulihan yang Berkelanjutan

Hunian sementara di Tamiang

Pemulihan Tamiang tidak hanya tentang memperbaiki infrastruktur, tetapi juga merekonstruksi identitas dan kebanggaan masyarakat. Banyak warga mengaku merasa ditinggalkan pada hari-hari pertama bencana, tetapi kini mereka melihat bahwa negara dan masyarakat bersatu untuk membantu. Guru SDIT Wulandari menyampaikan bahwa kini Tamiang tidak lagi sendirian.

“Awal bencana, kami merasa dibiarkan bangkit sendiri. Tapi kini, kami tahu bahwa negara dan bangsa Indonesia tidak akan membiarkan Tamiang bangkit sendiri,” katanya.

Perwakilan pemerhati bencana, Khairian, juga menyebutkan bahwa meski lumpur masih tinggi di beberapa daerah, ada kemajuan signifikan. Pembangunan hunian sementara di dekat Masjid Darusaallam, yang didanai oleh BUMN seperti BUM Karya, Himabara, Pertamina, dan PLN, menjadi salah satu langkah penting dalam proses pemulihan.

Tamiang dan Masa Depan yang Lebih Baik

Sungai Tamiang yang menjadi nadi kehidupan

Presiden Prabowo Subianto, yang dua kali berkunjung ke Tamiang, menunjukkan komitmennya untuk membantu daerah yang pernah menjadi pusat peradaban Melayu. Dengan semua sumber daya negara dikerahkan, harapan untuk pulih lebih cepat mulai terlihat. Proses pemulihan tidak hanya tentang membangun kembali bangunan, tetapi juga membangun kembali jiwa dan semangat masyarakat Tamiang.

Dari data sejarah, Sungai Tamiang sudah menjadi saksi lahirnya peradaban sejak abad ke-7 Masehi. Sebagai nadi kehidupan, sungai ini menghubungkan pedalaman Sumatera dengan Selat Malaka, menjadikan Tamiang sebagai pintu masuk dunia luar. Kini, dengan bantuan penuh dari pemerintah dan masyarakat, Tamiang sedang berjuang untuk kembali bangkit, mengangkat kembali jejak sejarah yang telah terkubur.

FAQ

Apa penyebab banjir di Tamiang?

Banjir di Tamiang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi dan sistem drainase yang tidak memadai. Kejadian ini memicu banjir bandang yang menghancurkan banyak area.

Bagaimana proses pemulihan di Tamiang?

Proses pemulihan di Tamiang melibatkan bantuan dari pemerintah, TNI, Polri, dan relawan. Pembersihan lumpur, perbaikan infrastruktur, serta pembangunan hunian sementara dilakukan untuk membantu warga kembali ke kehidupan normal.

Apakah Tamiang memiliki nilai sejarah yang penting?

Ya, Tamiang adalah salah satu daerah yang menjadi saksi lahirnya peradaban Melayu tertua di Sumatera. Sungai Tamiang pernah menjadi jalur perdagangan penting, menghubungkan pedalaman Sumatera dengan Selat Malaka.

Bagaimana peran pemerintah dalam pemulihan Tamiang?

Pemerintah telah mengerahkan sumber daya untuk membantu pemulihan Tamiang. Presiden Joko Widodo dua kali berkunjung ke daerah ini, menunjukkan komitmen pemerintah untuk memulihkan daerah yang pernah menjadi pusat budaya dan perdagangan.

Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu pemulihan Tamiang?

Masyarakat dapat berpartisipasi dalam kegiatan relawan, seperti pembersihan lumpur, pendirian hunian sementara, atau penggalangan dana untuk bantuan kemanusiaan. Partisipasi aktif sangat penting dalam proses pemulihan.

Tamiang adalah bukti bahwa kegigihan dan semangat manusia tidak pernah mati. Meskipun kini terendam lumpur dan kesedihan, daerah ini akan bangkit kembali. Semangat untuk memulihkan peradaban Melayu yang telah terkubur adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia. Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat, Tamiang akan kembali menjadi simbol kekuatan dan ketangguhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *